HOME ARTIKEL Asas Hukum Kewarisan Islam Dalam Kompilasi Hukum Islam (KHI)

PEMBINAAN BERKALA INTERNAL HAKIM DAN PANIETRA

PEMBINAAN BERKALA INTERNAL HAKIM DAN PANIETRA    Pembinaan bekala untuk internal Hak...

HALAL BIHALAL DAN PERESMIAN RUANG PELAYANAN TERPADU

PERESMIAN RUANG PELAYANAN TERPADU DAN HALAL BIHALAL KELUARGA BESAR PENGADILAN AGAMA MATARAM Ma...

Hari Lahir Pancasila

Upacara Peringatan Hari Lahir Pancasila di PA Mataram Mataram, 01 Juni 2018 Jum’at, (01/06/18...

BUKA PUASA BERSAMA KELUARGA BESAR PENGADILAN AGAMA MATARAM

BUKA PUASA BERSAMA KELUARGA BESAR PENGADILAN AGAMA MATARAM  Senin, (28/05/18), Pengadilan A...

PELANTIKAN JURUSITA PA MATARAM 2018

PENGAMBILAN SUMPAH dan PELANTIKAN JURUSITA    Senin, (28/05/18), pukul 14.00 WITA bertem...

  • PEMBINAAN BERKALA INTERNAL HAKIM DAN PANIETRA

    Kamis, 19 Juli 2018 05:46
  • HALAL BIHALAL DAN PERESMIAN RUANG PELAYANAN TERPADU

    Jumat, 29 Juni 2018 08:53
  • Hari Lahir Pancasila

    Jumat, 01 Juni 2018 01:26
  • BUKA PUASA BERSAMA KELUARGA BESAR PENGADILAN AGAMA MATARAM

    Selasa, 29 Mei 2018 16:30
  • PELANTIKAN JURUSITA PA MATARAM 2018

    Senin, 28 Mei 2018 07:56

Asas Hukum Kewarisan Islam Dalam Kompilasi Hukum Islam (KHI)

Artikel - ARTIKEL

ASAS HUKUM KEWARIAN ISLAM

DALAM KOMPILASI HUKUM ISLAM (KHI)

 

Oleh: Drs. H. Abd. Salam, S.H. M.H.

Wakil Ketua Pengadilan Agama Mataram

Pendahulun

Kompilasi Hukum Islam (KHI), adalah hukum Islam (fiqih) yang dirumuskan oleh sebagian ulama’-ulama’ Indonesia yang disadur dari berbagai kitab-kitab fiqih dari berbagai madzhab yang dianggap sesuai dengan situasi, kondisi dan situasi serta pemahaman masyarakat Islam Indonesia.

Jika didalami pasal demi pasal dalam KHI, disana sini terdapat perbedaan dengan hukum waris klasik yang selama ini telah dipahami oleh masyarakat Islam yang merujuk fikihnya pada Madzhab Syafi’i. Maka dilihat dari sisi ini KHI mirip dengan hasil Ijtihad Jama’i Ulama Indonesia yang mengakomodosi adat istiadat dan latarbelakang kondisi social masyarakat Islam Indonesia, misalnya masalah tentang anak syah, kawin hamil, anak angkat dan lain sebagainya.

Singkat kata KHI adalah fikih Islam ‘ala Indonesia, yang dalam perspektif methodologis (ushul fikih) KHI hampir sama dengan Ijma’ Ulama Indonesia atau Ijtihad Jama’i.

Keberlakuannya:

Keberlakuan KHI atas dasar Instruksi Presiden (INPRES) Nomor 1 Tahun 1991, tanggal 10 Juni 1991 kepada Menteri Agama untuk menyebarluaskan KHI kepada masyarakat. Oleh karena KHI telah diterima oleh masyarakat Islam Indonesia secara luas, maka KHI dipandang sebagai hukum yang hidup di tengah masyarakat Islam Indonesia (Living Law) hokum yang daya lakunya melebihi hukum positif, sehingga dapat dijadikan hukum terapan oleh Peradilan Agama.

Catatan:

INPRES tidak termasuk tata urutan hukum di Indonesia, akan tetapi ketaatannya masyarakat Islam atas ketentuan hukum dalam KHI, menjadikannya sebagai hukum yang patut diterapkan/diberlakukan untuk menyelesaikan sengketa-sengketa umat Islam d Indonesia.  

Cakupan KHI:

KHI hanya merangkum 3 (tiga) aspek hukum-hukum Islam (fiqih) yaitu:

1.      Bidang hukum perkawinan (fiqih munakahaat);

2.      Bidang hukum kewarisan (fiqhul mawarits) hibah dan shadaqoh serta;

3.      Bidang hukum perwakafan (waqaf).

Sistematika KHI :

KHI disusun seperti halnya bentuk peraturan perundang-undangan pada umumnya, yaitu terdiri dari Bab-Bab dan Pasal-Pasal serta Ayat-Ayat;

Buku I: Hukum Perkawinan terdiri dari XIX Bab, 170 pasal;

Buku II; Hukum Kewarisan terdiri dari VI Bab, 44 Pasal;

Buku III: Hukum Perwakafan terdiri dari V Bab, 14 Pasal;

Hukum Kewarisan:

Dalam tulisan singkat ini, tidak dikutip pasal demi pasal ketentuan hukum kewarisan dalam KHI, akan tetapi penulis perlu menjelaskan prinsip-prinsip hukumnya;

Asas bilateral/parental:

Maksudnya adalah dalam kewarisan sistim yang dianut KHI. tidak membedakan laki-laki dan perempuan dari segi keahliwarisan, sehingga tidak mengenal kerabat dzawil arham.

Asas ini didasarkan atas :

1.      Pasal 174 KHI tidak membedakan antara kakek, nenek dan paman baik dari pihak ayah atau dari pihak ibu. Pasal tersebut berbunyi:

 

(1). Kelompok-kelompok ahli waris terdiri:

      a. Menurut hubungan darah:

      - Golongan laki-laki terdiri dari: ayah, anak laki-laki, saudara laki-laki, paman dan kakek;

      - Golongan perempuan terdiri dari: Ibu, anak perempuan, saudara perempuan dan nenek. 

2.      Pasal 185 KHI mengatur ahli waris pengganti, sehingga cucu dari anak perempuan, anak perempuan dari saudara laki-laki dan anak perempuan/anak laki-laki dari saudara perempuan, bibi dari pihak ayah dan bibi dari pihak ibu serta keturunan dari bibi adalah ahliwaris pengganti.

Pasal tersebut berbunyi:

“Ahli waris yang meninggal lebih dahulu daripada si Pewaris (mayit) maka kedudukannya dapat digantikan oleh anaknya, kecuali mereka yang tersebut dalam pasal 173”.

(Pasal 173 tersebut mengatur bahwa orang-orang yang membunuh, mencoba membunuh atau melakukan penganiayaan berat kepada pewaris dan orang-orang yang memfitnah atau mengajukan pengaduan bahwa pewaris (mayit) telah melakukan kejahatan diancam dengan hukuman 5 tahun penjara atau hukuman yang lebih berat; Terhalang menjadi ahli-waris) Hal ini jika telah telah ada putusan pengadilan yang telah berkekuatan hokum tetap.

Catatan:

-          Bahwa tentang perbedaan agama antara pewaris dengan ahli waris dan perbudakan tidak menjadi penyebab terhalangnya pewarisan; Sedangkan dalam fiqih klasik hal tersebut menjadi penghalangan mewarisi (mawaniul irtsi). Akan tetapi berdasarkan praktek (yurisprudensi) Peradilan Agama dapat memberikan bagian dari harta Peninggalam kepada ahli-waris yang berbeda agama dengan perawis atas dasar pintu (konstruksi) Wasiyat Wajibah.

-          Wasiyat Wajibah adalah wasiyat yang diterapkan oleh waliyul amri, karena yang bersangkutan tidak berwasiyat. Hal tersebut berdasarkan ketentuan Allah dalam Al-Qur-an Surat Al-Baqarah 180:

كُتِبَ عَلَيۡكُمۡ إِذَا حَضَرَ أَحَدَكُمُ ٱلۡمَوۡتُ إِن تَرَكَ خَيۡرًا ٱلۡوَصِيَّةُ لِلۡوَٰلِدَيۡنِ وَٱلۡأَقۡرَبِينَ بِٱلۡمَعۡرُوفِۖ حَقًّا عَلَى ٱلۡمُتَّقِينَ

Artinya: “Diwajibkan bagi kalian (orang-orang mu’min) apa bila ada tanda-tanda kematian dan kalian meninggalkan harta (yang banyak) untuk berwashiyat kepada kedua orang tua dan segenap kerabat”

 

3.      Telah ada beberapa Yurisprudensi Mahkamah Agung Republik Indonesia yang mengetrapkan asaz ini.

Telah ada yurisprudensi Mahkamah Agung, bahwa seorang anak perempuan walau dalam fikih klasik tidak dapat menghabiskan harta karena ia adalah ashhabul furud bagiannya ½ harta peninggalan, tetapi ia dapat menghijab/mendinding/menghalangi saudara laki-laki si mayyit, hal tersebut berbeda dengan fikih klasik; 

 

Asas ahli waris langsung dan asas ahli waris pengganti:

Ahli waris langsung (eigen hoofde) adalah ahli waris yang disebut pada Pasal 174 KHI.

 

Ahli waris pengganti (plaatsvervulling) adalah ahli waris yang diatur dalam Pasal 185 KHI,yaitu ahli waris pengganti/keturunan dari ahli waris yang disebutkan dalam Pasal 174 KHI.

Di antaranya keturunan dari anak laki-laki atau anak perempuan, keturunan dari saudara laki-laki/perempuan, keturunan dari paman, keturunan dari kakek dan nenek, yaitu bibi dan keturunannya (paman walaupun keturunan kakek dan nenek bukan ahli waris pengganti karena paman sebagai ahli waris langsung yang disebut dalam Pasal 174 KHI).

Asas ijbari;

Maksudnya pada saat seseorang meninggal dunia, kerabatnya (atas pertalian darah dan pertalian perkawinan) langsung menjadi ahli waris, karena tidak ada hak bagi kerabat tersebut untuk menolak sebagai ahli waris atau berfikir lebih dahulu apakah akan menolak atau menerima sebagai ahli waris. Asas ini berbeda dengan ketentuan dalam KUHPerdata yang menganut asas takhayyuri (pilihan) untuk menolak atau menerima sebagai ahli waris (Pasal 1023 KUH Perdata).

Asas individual:

Dimana harta warisan dapat dibagi kepada ahli waris sesuai bagian masing-masing, kecuali dalam hal harta warisan berupa tanah kurang dari 2 ha (Pasal 189KHI jo Pasal 89 Undang-undang Nomor 56/Prp/1960 tentang Penetapan Lahan Tanah Pertanian) dan dalam hal para ahli waris bersepakat untuk tidak membagi harta warisan akan tetapi membentuk usaha bersama yang masing-masing memiliki saham sesuai dengan porsi bagian warisan mereka.

Asas keadilan berimbang;

Dimana perbandingan bagian laki-laki dengan bagian perempuan 2 : 1, kecuali dalam keadaan tertentu. Perbedaan bagian laki-laki dengan perempuan tersebut adalah karena kewajiban laki-laki dan kewajiban perempuan dalam rumah tangga berbeda. Laki-laki sebagai kepala rumah tangga mempunyai kewajiban menafkahi isteri dan anak-anaknya, sedangkan isteri sebagai ibu rumah tangga tidak mempunyai kewajiban menafkahi anggota keluarganya kecuali terhadap anak bilamana suami tidak memiliki kemampuan untuk itu. Mengenai bagian laki-laki dua kali bagian perempuan dapat disimpangi apabila para ahli waris sepakat membagi sama rata bagian laki-laki dan perempuan setelah mereka mengetahui bagian masing-masing yang sebenarnya menurut hukum. (Pasal 183)

Jika demikian yang dikendaki oleh segenap ahli-waris, maka segenap ahli waris atau sebagiannya dapat mengajukan Permohonan Pembagian Waris tanpa sengketa (voluntaire).

Asas waris karena kematian:

Maksudnya terjadinya peralihan hak materiil maupun immateriil dari seseorang kepada kerabatnya secara waris mewaris berlaku setelah orang tersebut meninggal dunia.

Asas hubungan darah:

Maksudnya hubungan darah akibat perkawinan sah, perkawinan subhat dan atas pengakuan anak (asas fiqh Islam).

Asas wasiat wajibah:

Maksudnya anak angkat dan ayah angkat secara timbal balik dapat melakukan wasiat tentang harta masing-masing, bila tidak ada wasiat dari anak angkat kepada ayah angkat atau sebaliknya, maka ayah angkat dan/atau anak angkat dapat diberiwasiat wajibah oleh Pengadilan Agama atau Mahkamah Syar’iyah secara exofficio maksimal 1/3 bagian dari harta warisan (Pasal 209 KHI).

Asas egaliter;

Maksudnya kerabat karena hubungan darah yang memeluk agama selain Islam mendapat wasiat wajibah maksimal 1/3 bagian, dan tidak boleh melebihi bagian ahliwaris yang sederajat dengannya (Yurisprudensi).

 

Asas Retroaktif Terbatas:

KHI tidak berlaku surut dalam arti apabila harta warisan telah dibagi secara riil (bukan hanya pembagian di atas kertas) sebelum KHI diberlakukan, maka keluarga yang mempunyai hubungan darah karena ahli waris pengganti tidak dapat mengajukan gugatan waris. Jika harta warisan belum dibagi secara riil, maka terhadap kasus waris yang pewarisnya meninggal dunia sebelum KHI lahir, dengan sendirinya KHI dapat berlaku surut.

 

Demikian tulisan singkat semoga bermakna dan mencerahkan.

Wallahu a’lam bish shawaab

Video PA Mataram

Personil PA Mataram
images/profil/01.jpg
images/profil/04.jpg
images/profil/05.jpg
images/profil/06.jpg
images/profil/07.jpg
images/profil/08.jpg
images/profil/09.jpg
images/profil/10.jpg
images/profil/11.jpg
images/profil/13.jpg
images/profil/14.jpg
images/profil/15.jpg
images/profil/17.jpg
images/profil/18.jpg
images/profil/19.jpg
images/profil/20.jpg
images/profil/21.jpg
images/profil/22.jpg
images/profil/23.jpg
images/profil/24.jpg
images/profil/25.jpg
images/profil/26.jpg
images/profil/27.jpg
images/profil/28.jpg
images/profil/30.jpg
images/profil/31.jpg
images/profil/32.jpg
images/profil/33.jpg
images/profil/34.jpg
images/profil/35.jpg
images/profil/36.jpg
images/profil/37.jpg
images/profil/38.jpg
images/profil/39.jpg
images/profil/40.jpg
images/profil/41.jpg
images/profil/42.jpg
images/profil/43.jpg
images/profil/44.jpg
images/profil/45.jpg
images/profil/46.jpg
images/profil/48.jpg
images/profil/49.jpg
images/profil/50.jpg
images/profil/51.jpg
images/profil/54.jpg
images/profil/55.jpg
images/profil/56.jpg
images/profil/57.jpg
images/profil/58.jpg
images/profil/59.jpg
images/profil/60.jpg
images/profil/61.jpg
images/profil/62.jpg
images/profil/63.jpg
images/profil/64.jpg
images/profil/65.jpg
images/profil/66.jpg
images/profil/67.jpg
images/profil/68.jpg
images/profil/69.jpg
images/profil/70.jpg
images/profil/72.jpg
JAM LAYANAN

 

Polling
Apa yang menarik dari web kami
 
Pengunjung Online
Kami memiliki 8 Tamu online
Pengunjung Kami
mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterHari Ini258
mod_vvisit_counterKemarin359
mod_vvisit_counterMinggu Ini1468
mod_vvisit_counterBulan Ini10207
mod_vvisit_counterTotal Pengunjung1590629
Intranet



Tabayun Online